WARISAN : DAGING ATAU BANGKAI?

Arjo dan Lasiyem sedang duduk berdua, di tepi sawah tetangga, yang tepat berbatasan dengan jalan raya. Tak ada pembicaraan serius atau penting layaknya sepasang pengantin baru yang merancang serta merencanakan kehidupan rumah tangga mereka. Pernikahan mereka baru juga memasuki bulan keempat, dan mereka masih menikmati masa kebersamaan, enggan direcoki dengan hal-hal samar tentang masa depan.

Teh manis hangat dalam sebuah botol bekas air mineral menemani kebersamaan mereka. Kadang pandangan mereka menuju hingar bingar jalan raya, terkadang tertuju pada hamparan sawah luas milik tetangga.

“Enak ya mas kalau punya sawah luas seperti ini?” Lasiyem berujar pelan.

“Enak gimana Lus?” Arjo bertanya balik sembari menatap wajah istrinya.

“Ya enak mas punya sawah luas, kita bisa duduk-duduk di pematang, sembari melihat tanaman penghidupan kita.”

“Lhah, tanpa punya sawah saja kita bisa duduk di pematang, sambil melihat tanamannya kok. Seperti sekarang.” Arjo meringis.

“Tapi kan bukan milik kita maaassss. Tanamannya juga bukan milik kitaaaa.” Lasiyem merengut.

“Kalau kita mau punya sawah seluas ini, habis uang berapa untuk beli. Lha wong rumah saja masih ngontrak, itu pun yang bulan terakhir masih nunggak. Ya jadinya ga enak punya tanah seluas ini.” Arjo menjawab sembari meneguk teh hangat langsung dari botolnya. Mereka lupa membawa gelas.

“Pemilik sawah ini ga harus beli dan mengeluarkan banyak uang lho mas.” Lasiyem memberi informasi, suara gaduh terdengar dari arah jalan raya. Sebuah mobil berhenti dan terdengar menyalakan klakson terus menerus. Sementara pembicaraan mereka terhenti dan beralih menyaksikan drama musikal jalanan. Tak berapa lama kegaduhan berhenti, dan jalanan terlihat normal kembali.

“Apa maksudnya pemilik sawah ini ga harus mengeluarkan uang? Lagipula, kamu tahu darimana Lus?” Arjo mengernyitkan dahi.

“Lhoh, kan semua orang di desa ini tahu, kalau sawah luas di depan kita milik Pak Sugih Arto. Dan Pak Sugih mendapatkan sawahnya bukan dari membeli, tapi dari warisan leluhurnya. Berarti kan tidak mengeluarkan uang.” Lasiyem bercerita panjang lebar.

“Owalah, gitu to maksudmu. Kalau kita yang mempunyai sawah seluas ini, ya tetep susah.”

“Maksudnya?”

“Gimana coba garapnya? Mengolahnya? Kita cuma berdua dan harus mengolah tanah seluas ini. Haaa ya semplok boyok’e.” Arjo mengemukakan pendapatnya.

“Ya ampun maaassss. Kan bisa bayar orang, cari tenaga, bukan dikerjakan sendiri.” Lasiyem menatap suaminya dengan pandang penuh keheranan. Dulu, ia menganggap Arjo begitu cerdas dan trengginas. Baik dalam olah fisik maupun olah pikir. Tetapi kenapa untuk hal sesederhana itu, Arjo seakan tak mengerti.

“Lus…” Arjo menatap pada kejauhan sebelum terlihat akan melanjutkan, “kalau kita mempunyai tanah seluas itu, tetapi tidak menyentuh serta mengolahnya sendiri, membayar orang untuk mengerjakannya, lalu apa bedanya kita dengan tuan-tuan tanah jaman kolonial, apa bedanya kita dengan bayi yang belum mampu berbuat apa-apa selain menunggu makanan masuk ke mulut mereka.”

Barisan pohon kelapa menahan sinar matahari yang masih terik, memberi bayang teduh pada tempat Arjo dan Lasiyem bercengkerama.

“Ya kan sebagian lagi bisa kita kerjakan sendiri, mas.” Lirih Lasiyem masih bertahan dengan pendapatnya.

“Lus…” Arjo tak kalah lirih.

“Ya mas.” Lasiyem menatap suaminya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang disebelahnya memang tak pernah berubah, dengan idealisme hidup yang dipegang sedemikian kencang.

“Tahu kenapa seharusnya kita bersyukur tak mempunyai tanah seluas ini?” Arjo menatap lekat istrinya.

“Kenapa, mas?” Lasiyem enggan membalas tatapan tajam suaminya, dan memilih mengalihkan pandangannya pada bekicot yang berjalan pelan di pematang.

“Kita ini baru sekadar duduk di sebelah tanah luas milik tetangga, tanpa memilikinya, sudah bertengkar dan berseberangan paham. Apalagi kalau kita memilikinya, dan terlebih karena warisan, tak menutup kemungkinan kita akan lebih sering bertengkar. Belum lagi godaan untuk menjualnya, mendirikannya bangunan-bangunan, dan atau mengalihfungsikannya menjadi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai pertanian.” Lirih Arjo berkata, sembari pandangannya kosong menuju jauh ke arah gerumbul rumput di sekitar pohon kelapa.

“Maaf mas, aku ga bermaksud begitu.” Lasiyem merasa bersalah.

“Lagipula aku terus mengingat kejadian, beberapa kasus perihal hancurnya keluarga karena berebut warisan. Baik berupa uang, tanah, bangunan, dan berbagai harta benda lainnya. Kalau kita mempunyai tanah seluas ini, apakah lantas menjamin bahwa kelak anak cucu kita takkan bertengkar berebut mendapatkan tanah ini?” Arjo melanjutkan, masih dengan suara yang lirih, pelan dan tertahan.

“Iya mas. Aku juga tahu dan menjadi saksi ketika dulu tetanggaku, kakak beradik, berkelahi karena berebut jatah warisan yang ditinggalkan orang tua mereka. Padahal dahulu mereka sangat akrab, nyaris tak pernah terdengar bertengkar, tetapi gara-gara warisan mereka rela menukar segala nilai persaudaraan itu dengan harta benda.” Lasiyem lirih menguatkan pendapat Arjo.

“Ya tak lantas juga kita harus menghindari menjadi kaya raya Lus.” Arjo tertawa sembari menyulut sebatang kretek.

“Maksudnya mas?” Lasiyem penasaran.

“Ya boleh juga kita mempunyai sawah seluas ini, tetapi kita dapatkan dengan cara dan kerja keras kita sendiri. Bukan berkhayal tentang mendapat warisan.” Arjo terkekeh sembari mengisap kretek dalam-dalam.

“Iya ya mas.” mata Lasiyem berbinar.

“Dengan kerja keras, kita akan memberi teladan pada anak cucu serta seluruh keturunan kita, bahwa hidup dan segala harta benda yang menyertainya harus diperjuangkan dengan usaha dan kerja keras. Bukan dengan berharap warisan atau pemberian cuma-cuma.”

“Iya mas.”

“Tetapi mendapat warisan sih tak salah dan tak juga buruk, asal tidak berebut. Toh yang berjuang mendapatkan itu semua adalah orang tua serta leluhur kita, tak elok jika keturunan yang tinggal menerima seperti kita ini lantas berebut seolah itu adalah mutlak milik kita.”

“Aku sayang kamu mas.” Lasiyem menggelayut manja.

“Kenapa?”

“Kok kenapa?” Lasiyem melepaskan pelukannya.

“Lhaiya kenapa tiba-tiba bilang sayang?” Arjo mengernyitkan dahi.

“Ya karena ternyata mas tak pernah berubah. Sejenak tadi kukira mas sudah menjadi sedikit tolol, tetapi ternyata tidak.” Lasiyem meringis.

“Wooo lha.” Arjo mencubit hidung istrinya, dan melanjutkan “itu yang kamu juga harus ketahui Lus.”

“Apa mas?”

“Aku tidak menjadi tolol, tidak terlalu tolol maksudku, itu juga karena warisan kedua orang tuaku. Mereka memberiku warisan berupa pendidikan yang baik di dalam keluarga, rasa cinta, kasih sayang, dan yang terpenting selalu memberiku teladan tentang sikap saling menghormati dan menghargai. Aku kira, warisan yang demikian itu jauh lebih berharga dari berbagai macam tanah dan harta benda.”

“Ah, mas Arjo.” Lasiyem memeluk manja.

Matahari mulai beranjak terbenam, dan Arjo serta Lasiyem juga tenggelam dalam lamunan mereka masing-masing perihal masa depan. Sejenak mereka lupa, ada uang kontrakan yang harus dibayar secepatnya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.