WARUNG MOJOK

Sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini, sebaiknya perlu saya sampaikan :

“Bahwa dalam setiap ulasan yang saya buat dan sampaikan perihal warung, makanan, minuman, atau barang apapun, saya tidak mendapatkan imbal balik atau jasa dari pihak-pihak terkait yang produk mereka saya ulas. Setidaknya sampai saat ini.”

Mengapa hal itu perlu saya sampaikan?
Agar tak ada fitnah dan dusta diantara kita.
Agar anda mendapatkan apa yang layak didapatkan, sebuah ulasan obyektif perihal makanan, minuman, warung, atau barang apapun.

Seperti yang anda tahu, saya jarang menulis perihal makanan, minuman, atau mungkin warung dan resto penjualnya, jika produk yang mereka jual tidak benar-benar istimewa (menurut saya).
Obyektif menurut saya, tentu adalah juga adalah subyektifitas. Tetapi saya selalu berusaha menekan sejauh mungkin perasaan untuk ‘asal’ saja dalam merekomendasikan sesuatu yang berkait dengan belanja makanan, minuman, apalagi kopi. Tak asal saja mentang-mentang produk yang saya ulas adalah milik teman, tetangga, atau bahkan saudara.

Sudahlah, mari segera saja beranjak ke Warung Mojok.

Sebenarnya sudah semenjak ketika pertama kali datang kesana, saya ingin menulis dan membuat ulasan mengenai Warung Mojok, beserta beberapa produk mereka yang menurut saya istimewa. Tetapi niat itu berkali urung saya lakukan. Kenapa?

Begini, sebenarnya saya malu kepada diri saya sendiri ketika berniat menulis mengenai Warung Mojok (Warmo).
Warung ini didirikan dan diinisiasi oleh orang-orang yang sangat berkompeten dalam hal tulis menulis. Sehingga saya takut, ketika membuat tulisan mengenai Warmo, malah akan membuat warung yang sudah kondang tersebut mendapat citra kurang mengesankan, akibat dari apa yang saya tuliskan.

Maka, anggaplah tulisan ini sebagai sekadar informasi dan pemberitahuan saja bagi anda yang belum tahu mengenai Warmo. Meski juga saya yakin, bahwa banyak dari anda sekalian yang sudah mengenal Warmo, bahkan sudah berkali-kali berkunjung kesana.

Atau begini saja, saya kisahkan mengenai pengalaman pertama saya ketika menyambangi warung tersebut, dan juga kali kedua, ketiga, dan seterusnya ketika saya kesana.

Selepas Maghrib, setelah mandi dan gosok gigi serta tak lupa memakai baju dan celana, saya bergegas memanaskan mesin si Bleky. Sepeda motor kesayangan saya. Tujuannya hanya satu, menuju kedai, warung, atau apapun asal menjual dan menyediakan kopi. Di tengah jalan, tiba-tiba terpikir untuk menuju Warmo. Berangkat dari rumah, saya tak terpikir mengenai Warmo. Selain jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di Piyungan, saya juga merasa sungkan untuk ngopi di Warmo. Karena menurut kabar serta ulasan di media sosial, Warmo merupakan tempat para pesohor dunia tulis menulis dari DIY, bahkan dari seantero Indonesia, untuk berkumpul dan bercengkerama.

Tetapi pada hari itu, akhirnya Bleky mengantar saya untuk sampai juga di Warmo, di Jalan Kapten Haryadi, Sleman. Kalau dari Jalan Kaliurang, pada pertigaan Ngasem anda bisa mengambil jalan kebarat mencari kitab suci ke arah Kamdanen. Tempatnya ada di selatan jalan. Kalau dari arah Jalan Kaliurang, ada di sebelah kiri jalan.

Setelah memarkir Bleky pada tempat parkir cukup luas yang disediakan, saya segera beranjak masuk ke warung yang memakai konsep outdoor itu dalam penataan tempatnya. Saya menuju meja yang diatasnya terpampang banyak toples yang ternyata berisi biji kopi. Saya kira itu adalah toples berisi peyek dan ampyang kacang. Seorang pegawai warung menyapa dengan ramah, dan bertanya apa saja yang hendak saya pesan. Sebelum menjawab saya sejenak menoleh pada barisan toples berisi biji kopi, membaca label yang tertempel, dan kemudian baru memutuskan.

Waktu itu saya memesan satu cangkir kopi Blue Tamblingan, dan satu cangkir kopi Arabica Sumbercandik. Ketika pegawai (barista?) bertanya metode seduh bagaimana yang saya inginkan, saya kebingungan. Saya orang awam dalam dunia kopi. Akhirnya barista menyarankan untuk metode tubruk saja, dengan alasan untuk mengetahui ciri khas dari masing-masing kopi jika baru pertama kali akan mencicipi. Saya setuju.
Selesai dengan pesan memesan kopi, saya menuju salah satu kursi untuk mengambil tempat duduk.

Warmo menempati lokasi yang cukup luas dengan tempat parkir yang juga memadai. Bahkan anda tak perlu khawatir jika berkunjung kesana dengan menggunakan bis berukuran besar.

Tempat duduk di Warmo dibagi menjadi dua bagian utama. Satu berada pada bangunan utama yang berupa bangunan permanen namun tanpa sekat tembok kecuali untuk bagian dapur, dan juga bangunan terbuka tanpa tembok dan sekat namun dilengkapi atap berupa galvalum.

Saya mengambil tempat duduk bukan pada bangunan utama. Selain agar tak terlalu berdekatan dengan para pegawai Warmo, saya juga ingin melihat dan menikmati lalu lalang kendaraan. Sembari menunggu pesanan kopi datang, saya mengamati keadaan sekitar. Mencoba melihat detail penataan warung tersebut. Untuk hal tempat, Warmo bagi saya layak untuk dijadikan tempat ngopi, ngobrol, bercengkerama bersama kawan, atau juga kencan dengan majikan pasangan. Tempatnya luas dan dengan jarak meja serta kursi yang tak terlalu berhimpitan. Sehingga kita masih mempunyai privasi untuk membicarakan hal-hal rahasia tanpa takut terdengar oleh orang lain di sekitar.

Ketika mengedarkan pandangan melihat-lihat situasi dan kondisi di Warmo, mata saya melihat tagline mereka yang terpampang pada papan nama berwarna merah besar, tepat di bawah tulisan Warung Mojok :

“Kami ada untuk menambal kesedihan anda.”

Haa bajilak, padakne ban motor bocor.

Kopi datang, saya mengambil cangkir Blue Tamblingan, mengaduk, dan menghirup aromanya, segar. Dengan aroma buah yang kuat.
Arabika Sumbercandik berganti saya ambil, mengaduknya perlahan, dan menghirup aromanya, segar. Aroma buahnya tak sekuat pada Blue Tamblingan.

Setelah itu bergantian saya menyesap Blue Tamblingan, dan juga Sumbercandik, tanpa gula.
Pada Blue Tamblingan saya tak ragu menyematkan poin sembilan dari maksimal sepuluh. Sumbercandik tak ragu saya berikan poin delapan.

Setelahnya saya menambahkan satu sachet gula pada masing-masing cangkir tersebut, dan bergantian menyesapnya, pelan dan perlahan.

Blue Tamblingan memberikan rasa yang sama sekali berbeda, dan belum pernah saya rasakan dari berbagai macam kopi yang pernah saya cecap. Rasanya unik, sama sekali berbeda dengan berbagai arabika lain yang pernah saya coba. Lebih dari itu, Blue Tamblingan membuat saya merasa menjadi ningrat dan priyayi. Menurut cerita, Blue Tamblingan diproduksi secara terbatas karena memang terbatasnya lahan tanam dan segala keunikan yang menyertai serta mempengaruhi keseluruhan prosesnya hingga menjadi secangkir kopi yang nikmat tiada terkira. Bagi proletar seperti saya, bisa mencicip kopi langka semacam itu, tentuadalah suatu keberuntungan serta kemujuran tersendiri. Apalagi harganya sangat ramah, dua puluh ribu rupiah masih diberi kembalian.

Lain waktu, ketika kesana bersama juragan istri, saya kembali memesan Blue Tamblingan, namun dengan metode saring. Istri memesan segelas Ice Lychee Tea. Kali ini, Blue Tamblingan menguarkan aroma buah yang lebih khas, seperti aroma buah nangka. Sungguh memanjakan hidung dan lidah.

Istri memberikan testimoni pada Es Teh Leci yang ia nikmati. Segar, dengan perpaduan manis dan asam yang berkelindan meciptakan rasa yang demikian unik dan nikmat.  Leci-nya juga benar-benar dari buah leci segar. Tiga biji buah leci terlihat di dalam gelas. Sebagai catatan, ketika memesan menu serupa di warung atau tempat lain, paling banyak hanya ada satu buah leci dalam satu porsi atau satu gelas yang disajikan.
Mungkin dari tiga buah leci segar tersebut, rasa asam dan segar dihasilkan.
Lagi-lagi harganya juga bersahabat. Dua puluh ribu masih dapat kembalian.

Dari keseluruhan menu dan tempat, saya memberikan poin delapan untuk Warmo. Jika ada hal yang membuat saya tak memberikan poin sembilan, itu adalah ketiadaan atap pada tempat parkir sepeda motor. Ini musim penghujan, dan tak semua sepeda motor tahan terhadap hujan dan dingin malam. Jangan sampai sepeda motor pengunjung masuk angin. Karena sampai saat ini belum ada Tolak Angin atau Antangin khusus untuk keadaan darurat kendaraan masuk angin.

Lepas dari tempat parkir sepeda motor, saya tak ragu merekomendasikan Warung Mojok sebagai tempat untuk menikmati akhir pekan anda, atau untuk menambal kesedihan anda.

Sekian.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *