WAWANCARA JENDERAL GARENG : (ME)WAJIB(KAN) NONTON FILM BORUTO

Malam ini saya sedang duduk santai, setelah selesai mencuci baju, dan melihat balapan sepeda motor di televisi. Segelas kopi dingin yang saya buat selepas Isya, masih tersisa separuh. Angin berhembus cukup kencang, membawa dingin dari baris pegunungan. Saya rasa, angin dingin malam ini bisa membuat badan meriang, setelah panas mendera seharian. Perubahan suhu yang demikian, membuat hidung dan mata terasa gatal, hampir bersin.

Hidung dan mata terasa semakin gatal, dan karena belum ada metode menggaruk mata, saya putuskan untuk segera masuk saja ke dalam rumah. Daripada hidung dan mata semakin terasa gatal. Baru saja saya beranjak, dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil dan suara menderu kencang. Tak lama sebuah mobil berhenti tepat di jalan depan rumah, tepat ketika saya sudah berada di depan pintu.

Pintu mobil sebelah kiri terbuka, dan disusul turunnya seseorang, berjalan, langsung menuju teras rumah.

“Bung.”

Saya berusaha mengingat. Orang itu berusia paruh baya, menurut perkiraan saya.

“Maaf, anda siapa?”
Saya menjawab sapaannya dengan sebentuk pertanyaan. Saya lupa.

“Anda lupa, Bung?”

Saya berusaha mengingat. Orang tersebut berperawakan gagah, tegap, namun dengan muka yang sedikit aneh. Orang itu duduk di cor semen teras, tanpa dipersilahkan. Mengambil sebungkus rokok dari dalam saku, menyulut sebatang.

“Sudahlah, rokok dulu Bung?”

Dia menawari. Saya sungkan, dan mengambil satu batang, menyulutnya. Saya duduk di lantai teras, mengambil tempat berhadapan.

“Maaf, Pak. Saya benar-benar lupa.”
Saya merasa bersalah.

“Tak apa Bung.” Orang itu terlihat santai, dengan ekspresi muka datar. Kembali terlihat ia menghisap rokoknya, dalam dan perlahan.

“Masih di majalah Peli?” lanjutnya.

Saya terkesiap. Orang itu mengenal saya dengan baik, tetapi kenapa saya benar-benar lupa.

“Wawancara setahun lalu? Film? Naruto?”
Orang itu kembali melanjutkan.

“Ooh.” Saya kembali terkesiap.
Pintu mobil sebelah kanan terbuka, sopir turun, membawa sebuah bungkusan.

“Ya..yaaa..saya ingat.” Saya berteriak tertahan.
Saya mulai teringat. Orang di depan saya adalah seorang Jenderal, petinggi militer dari Karangtumaritis.
“Jenderal Gareng?” Saya bertanya setengah berteriak.

“Ya. Syukurlah anda ingat.” Orang itu, Jenderal Gareng, masih dengan ekspresi muka datar, menjawab pelan.

“Kopi jenderal?”
Tanpa meminta persetujuannya saya segera masuk, menyiapkan tiga gelas untuk menyeduh kopi.

Tak lama saja untuk menyeduh tiga gelas kopi, dan segera menyajikannya kepada Jenderal Gareng, beserta sopirnya yang mempunyai bentuk muka tak kalah aneh dengan juragannya.

“Masih di majalah Peli? Peliputan dan Investigasi itu?” Jenderal Gareng mengulang pertanyannya.

“Ooh, anda masih ingat Jenderal?” Saya tersenyum malu.

“Ingatan saya tajam, dan anda tak perlu tersenyum malu-malu asu seperti itu.” Masih tenang, Jenderal Gareng menjawab dengan nada yang juga masih terdengar pelan.

Jangkrik, saya membatin.

“Ada perlu apa Jenderal? Dan tahu darimana rumah saya?” Heran juga pejabat tinggi sepertinya datang ke gubug saya yang hampir reot serupa kandang sapi.

“Tak usah memanggil Jenderal, saya sudah pensiun. Panggil saja Pak, atau apa sajalah terserah. Dan apa yang tidak saya tahu? Ukuran lingkar kepalamu saja saya tahu kok, bahkan isi kepalamu, lha kok cuma rumahmu.” Jenderal Gareng mengisap kembali rokoknya.

Orang ini jenis bedebah yang akan membuat siapapun merasa marah, sekaligus merasa penasaran.
Saya sudah mulai mengingat, setahun lalu. Ya, setahun lalu. Saya pernah mewawancarai Jenderal Gareng.

“Saya ingat Jenderal, eh, Pak. Wawancara kita setahun lalu.”

“Ya..ya..ya.” Jenderal Gareng menganggukkan kepala.

“Sudah lama pensiun?”

“Beberapa bulan yang lalu.”

Setahun lalu saya mewawancarai Jenderal Gareng tentang kebijakannya mewajibkan warga Karangtumaritis melihat film Naruto.

“Sudah berbaikan dengan Jenderal Petruk?”
Saya mencoba memancing pertanyaan.

“Anda masih wartawan?” Jenderal Gareng balik bertanya.

“Kenapa?”

“Kok anda masih goblog seperti setahun lalu.” Jawabnya santai.

Kobiisss, saya membatin.

“Goblog bagaimana?” Saya bertanya dengan perasaan ingin mengajak berkelahi.

“Kok bertanya apakah saya sudah berbaikan dengan Jenderal Petruk? Memangnya kapan kami berburukan?”

“Lhah. Bukannya anda sempat berseberangan paham dengan Jenderal Petruk?”

“Berseberangan paham bukan berarti bermusuhan kan? Bukan pula menjadikan kami saling tidak baik satu dengan yang lain. Anda ini kok sempit sekali pemikirannya? Seperti di negara sebelah saja.”

Kobis, kobiiisssssss.

Saya teringat ketika itu Jenderal Gareng masih menjabat Panglima, dan Jenderal Petruk Menhan Karangtumaritis. Mereka berpolemik perihal himbauan untuk melihat film Naruto. Jenderal Gareng mewajibkan warga Karangtumaritis untuk melihatnya, sedang Jenderal Petruk menentangnya.

“Waktu itu, sukses nonton bareng film Naruto?” Tanya saya mencoba mengingat kembali percakapan kami setahun lalu.

“Jelas.”

“Jelas apa?”

“Ya jelas sukses. Anda itu memang goblog atau pura-pura goblog?”

“Anda itu sudah pensiunan kok ya masih sengak saja. Mbok ya perbanyak ibadah, haa kok malah nambah.”

“Lhah, pensiunan jenderal itu bebas, mas.”

Yawlah, ingin rasanya menantang pensiunan jenderal dengan muka pencengnya itu untuk berkelahi.

“Kopinya, Pak.” Daripada jenderal itu semakin sengak saja, saya coba mengalihkan pembicaraan.

“Wah. Anda sudah bukan wartawan ya?” Kata Jenderal Gareng setelah menyeruput kopi di sebelahnya.

“Kenapa?”

“Terlalu pahit, anda sudah tak mampu beli gula ya?”

Yawlah. Andai bukan tamu, sudah saya ajak berkelahi saja.

“Apa keperluan anda kali ini, Jenderal, eh, Pak?”

“Jawab dulu pertanyaan saya. Anda sudah bukan wartawan kan?”

Saya mengamati pensiunan jenderal tersebut, mencoba mencari tahu apakah terselip pistol atau senjata apapun di pinggangnya. Andai tidak ada, kok saya ingin melemparnya dengan sandal.

“Sudah lama saya mundur dari wartawan Pak.”

“Ooh, berarti saya sia-sia datang ke rumah anda.” Jenderal Gareng menatap tajam,
“Sebenarnya saya ingin kembali di wawancara, tetapi anda sudah tak mempunyai akses ke media massa. Di tambah kopi tak enak ini, semakin sah bahwa sia-sia kedatangan saya ke rumah anda.”

Bajilaaakkkk.

“Tetapi tak ada salahnya kita tetap berbincang, dan sedikit akan saya ceritakan kepada anda. Tak perlu dicatat atau diingat.” Jenderal Gareng melanjutkan.

“Tentang apalagi kali ini? Anda seperti tak bosan berpolemik, apakah kali ini juga tak berbeda?”

“Mas, saya hanya ingin berbicara, bukan berpolemik.”

“Terserah anda saja.” Saya mulai bosan juga mendengar pensiunan jenderal tua itu berbicara.

“Saya ingin tahun ini warga Karangtumaritis melihat film Boruto.”

“Ya sudah suruh melihat saja, gampang.”

“Anda tahu kan saya sudah pensiun?”

“Lalu?”

“Saya sudah tak punya kewenangan.”

“Nah itu paham.”

“Maksudnya?”

“Kalau sudah pensiun, tidak punya kewenangan, ya tahu diri dong Pak. Untuk apa masih menghimbau dan menyuruh-nyuruh?”

“Anda ini masih kopet saja.” Jenderal Gareng menimpali.

“Lhoh. Benar kan? Kalau sudah pensiun, merasa tak punya wewenang, ngapain lagi? Nanti dikira anda ini mempunyai tendensi macam-macam. Sudahlah serahkan saja pada penerus anda.”

“Junior-junior saya itu tak tahu apa-apa.”

“Berarti anda berandil juga.”

“Wah, kopet mas. Saya ini cuma ingin bercerita. Kok anda malah ceramah.”

“Ya sudah. Silahkan bercerita.”

“Tidak usah, tidak jadi. Saya sudah kagol.”

“Saya heran.”

“Kenapa?”

“Kok orang kagolan seperti anda bisa menjadi jenderal? Panglima pula?”

“Anda harus bersyukur saya jenderal, dan juga panglima.”

“Kalau tidak?”

“Kalau saya bintara atau tamtama, anda sudah saya jotosi.”

Kobis.
Jenderal Gareng kembali menyulut sebatang rokok, menghisapnya perlahan, menawarkan kepada sopir yang sedari tadi asyik dengan hape, dan terkadang tersenyum aneh sendirian.

“Rokok?” Jenderal Gareng menawarkan.

“Enggak Pak, terima kasih.” Si sopir menolak halus.

“Tumben?”

“Rokok tidak baik Pak bagi saya saat ini.”

“Lhah? Apa kamu sudah mulai ketularan gila seperti mas ini?”

“Enggak Pak. Coba bapak lihat. Tangan kiri saya memegang hape, dan tangan kanan memegang cangkir kopi. Saya mau pegang rokok pakai tangan siapa?” Si sopir menjawab takzim.

“Weelhaaa. Kamu kok juga positif edan, baru juga duduk sebentar.” Jenderal Gareng melotot ke arah sopirnya, si sopir meringis saja melihat bosnya.

“Rokok, mas?” Jenderal Gareng kembali menawarkan rokok kepada saya, yang kemudian saya tolak secara halus.

“Memangnya ada apa dengan film Boruto? Kenapa anda menghimbau warga masyarakat untuk melihatnya?”

“Ya gapapa, melihat film kan ga mesti juga harus mempunyai alasan. Melihat ya melihat saja.”

“Ya sudah anda saja yang melihatnya, kenapa warga harus disuruh juga? Dan kenapa juga anda harus terlihat seolah memberi tekanan pada junior-junior anda di militer untuk mau mendorong pemutaran film Boruto?”

“Lhoh, siapa yang menekan? Siapa juga yang mendorong? Pegang saja ga pernah kok.”

“Haasshhh.”

“Kenapa?”

“Apakah film Boruto sebagus film Naruto, sejauh ini? Sehingga anda mewajibkannya?”

“Enggak juga. Boruto belum bisa menggantikan Naruto, dari sisi cerita maupun pesona karakter tokoh-tokohnya. Lagipula, Tsunade sudah jarang terlihat, menyebalkan.”

“Kalau tidak sebagus Naruto, kenapa anda memaksakan untuk diadakan pemutaran film itu di Karangtumaritis?”

Jenderal Gareng memejamkan mata, menghela napas panjang, menghembuskannya, dan mengambil gelas kopinya, meminumnya kembali sampai tandas. Dia kemudian berdiri, sejenak melihat hape, dan menjawab pelan :
“Saya ini purnawirawan jenderal, berhenti aktif pada posisi sebagai panglima. Dulu, saya pernah bercita-cita menggantikan Semar sebagai pemimpin tertinggi di Karangtumaritis. Hampir, hampir saja teretas jalan menuju kesana. Beberapa pihak merapat, memberikan dukungan, dan meyakinkan saya untuk terus merintis jalan menuju kursi tertinggi Karangtumaritis. Tetapi…”

Jenderal Gareng nampak ragu, kembali ia menyulut sebatang rokok.

“Tetapi apa, Pak?” Tak tega juga rasanya melihat purnawirawan jenderal itu memasang muka memelas.

“Banyak dari mereka yang merapat itu hanya mau minta rokok, dan tidak benar-benar mendukung saya.”

“Kalau cuma rokok ya dikasih saja, mantan panglima jee.”

“Haa ya kalau sebungkus atau dua bungkus, lha mereka minta sekalian pabriknya jeee.” Jenderal Gareng melotot.

“Lha ya jangan ke saya marahnya.” Saya sewot juga.

“Ooh ya, maaf mas.” suaranya kembali terdengar tenang.

“Lantas, apa hubungannya dengan himbauan anda untuk memutar dan menonton film Boruto?”

“Ya ga ada.”

“Maksudnya?”

“Pensiun itu sepi je, apalagi pensiunan panglima seperti saya. Dulu sering terkena sorot kamera, diburu pencari berita, mengisi halaman-halaman media masa, lha sekarang? Saya hanya ingin mencari hiburan saja kok, daripada sepi.”

“Mencari hiburan kok dengan melempar polemik.”

“Yang biasanya dilempar itu jumroh mas, pada prosesi ibadah haji. Melempar jumroh.”

“Haasshhh.”

“Saya pamit dulu.”

“Lhoh, ga jadi cerita-cerita?”

“Bukannya ini tadi sudah?”

“Kapan?”

“Ya barusan.”

“Itu baru ngobrol jenderal, belum cerita.”

“Ya sama saja. Lagipula, sia-sia cerita sama anda.”

“Silahkan pergi jenderal, semoga selamat sampai tujuan.”

“Ya, semoga Gareng sampai tujuan.”

“Kapan-kapan silahkan mampir lagi, pintu rumah saya selalu terbuka.”

“Anda ini memang hanya manis pada bibir dan kata saja.”

“Maksudnya?”

“Pintu rumah terbuka bagaimana? Lha wong daritadi kita juga cuma duduk di teras kok, pintu juga ditutup, tak ada camilan, tak ditawari makan. Cuma ada segelas kopi, itu saja blas ga enak. Besok lagi belajar jadi tuan rumah yang baik. Yasudah, saya pamit dulu.”

Pet, kopet…

*****
Gambar : kaorinusantara.or.id

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

8 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *