WFH, PSBB, Dan Ramai Mudik Yang Diam-diam

Saya sangat menikmati WFH, meski dengan kondisi yang sederhana dan situasi yang tak mesti berwarna. Kadang hitam putih saja, bahkan terkadang hanya hitam saja serupa mendung tanpa petir. Tetapi saya menikmatinya. Sudah dua bulan, dan saya masih menikmatinya. Entah dengan anda.

Meski hanya berbekal satu hape Xiaomi untuk mengakses internet, saya tetap berusaha menikmatinya. Meski jaringan internet terkadang naik turun kecepatannya, namun hape tua saya itu masih cukup mampu meladeni ketidakpastian jaringan. Meski terkadang ketika saya pegang, hape tua itu terasa sangat panas. Ya maklum, karena sekaligus ia juga saya pakai sebagai pemancar Internet untuk laptop yang saya gunakan bekerja.

Begitulah, saya tak mempunyai berlangganan internet dengan kecepatan yang wus wuuss itu sebagai bekal senjata bekerja dari rumah. Saya hanya mengandalkan hape Xiaomi tua untuk berbagi jaringan dengan laptop saya, menggunakan kuota reguler dari kartu XL dan juga Simpati.

Tetapi saya menikmatinya, dan oleh karena itu saya tidak merindukan bekerja dari kantor. Entah besok atau lusa mungkin perasaan saya akan berubah, tetapi sampai saat ini, saya sangat menikmati WFH.

Mungkin pada awalnya saya terpaksa menikmati itu, karena takut terpapar corona, atau takut menjadi pembawa corona, jika bepergian. Maka selama dua bulan ini, saya pun hanya dirumah saja. Tak kemanapun selain berpindah dari kasur kamar ke kasur di ruang televisi. Sudah, seperti itu saja saban hari.

Pagi saya akan bekerja, mengerjakan tupoksi, dan kemudian siang menjelang sore saya akan mulai memanjakan diri dengan bergulung diatas kasur kesana kemari. Kapan lagi?

Jujur saja saya ingin situasi segera normal, bekerja seperti waktu-waktu yang lalu, dan tak perlu ada pembatasan-pembatasan termasuk PSBB itu.

Maka saya berdiam dirumah, bekerja dari rumah, berharap corona segera minggat. Eee tapi ya banyak juga ternyata yang menyepelekan hal itu. Menyepelekan prosedur penanganan pandemi agar segera berakhir.

Paling mutakhir saya lihat dari berita, suasana bandara Soekarno-Hatta seperti gathering tukang minta sumbangan. Hampir semua bawa map, yang katanya berisi surat tugas. Tentu saja itu untuk pembenaran agar bisa melakukan mobilitas menggunakan pesawat.

Dan akhirnya (juga kata berita), 190an orang yang berada di kerumunan itu, positif corona.

Mampus rak!!!
Saya yang mampus, berarti harapan agar situasi lekas membaik masih jauh dari angan-angan. Setidaknya indikasi dari bandara Soekarno-Hatta itu bisa dijadikan rujukan. Corona belum bisa dikendalikan. Dan siapapun yang merasa sehat serta merasa mustahil terpapar, ternyata terpapar juga.

Yang saya khawatirkan, jika kemudian di Daerah Istimewa Yogyakarta harus diberlakukan PSBB. Mosok mau beli beras saja harus berada argumen dengan petugas. Kan ya pahit kalau harus gitu.

Itu bisa terjadi, kalau sebagian besar masyarakatnya ngeyel, mengabaikan protokol yang harus diberlakukan untuk mencegah penyebaran corona.

Wacana untuk melonggarkan aktifitas dan menyatakan ‘berdamai’ dengan corona, juga membuat saya masygul. Mosok ya, begitu.
Kalau pada akhirnya memilih jalan itu, kenapa tidak sekalian saja dari awal?

Mungkin pengambil kebijakan juga sudah ‘gedheg‘ dan kemudian seolah ‘menyerah’ sehingga mencetuskan ide untuk berdamai hidup diantara corona itu.
Tetapi, ayolah, mereka ada pada pucuk pimpinan pengambil kebijakan, bukan tanpa alasan. Bahkan beberapa dari mereka memang ‘mendaftar’ untuk bisa sampai pada posisi mereka sekarang ini. Rakyat memilihnya.

Nah, mosok sekarang mau mengorbankan mereka yang sudah memilih?
Ini adalah saat untuk mengambil tanggung jawab lebih, sesuai dengan proporsi dan posisi mereka. Jangan hanya mau duduk diposisi itu ketika keadaan enak dan tenang saja. Justru pada saat semacam ini, kapasitas mereka sedang diuji.

Mampu tidak menelurkan kebijakan yang akan kemudian menetas menjadi kemaslahatan.

Kalau ketika ada masalah kemudian lari, saya juga bisa. Tak perlu mereka yang bergaji besar dan berfasilitas mewah ditunjang negara. Saya yang bergaji kecil seharusnya lebih pantas untuk lari jika ada masalah pelik semacam itu.
Kalau saya tak boleh lari, dan disuruh menghadapi, lha po pantas yang menyuruh semacam itu justru ingin lari pertama kali?

Tetapi semoga saja wacana itu tak lebih dari wacana, dan tetap ada komitmen untuk menciptakan situasi yang membuat corona lekas pergi.

Sebab rasanya kok tidak lucu setiap saat beraktifitas ditengah suatu ancaman yang tak kasat mata. Jelas saja situasi semacam itu lebih mengerikan daripada berhadapan dengan pocongan.

Tak lucu jika ketika sedang makan di warteg, dan disebelah saya ternyata ada orang lain yang sudah positif terpapar corona. Makan di warteg paling enak berlauk rendang jengkol dan beberapa kerupuk, bukan berlauk virus.

Semoga, dan semoga saja, tetap ada komitmen untuk menanggulangi corona sampai benar-benar pergi. Atau paling tidak, sampai nanti ditemukan obat serta vaksinnya.

Yang ingin tetap mudik juga lucu. Terutama orang-orang berduit yang bisa mudik dengan naik pesawat. Jujur saja saya yakin keluarga mereka di kampung halaman sama sekali tak mengharapkan kepulangan mereka tahun ini. Yang paling diharapkan untuk pulang saya yakin uang dan angpaonya. Transfer saja, disertai video call sembari mengucapkan permintaan maaf.

Ah ya, tapi kan banyak yang tidak jujur, dan tetap memilih mudik diam-diam.

Semenjak ada corona, semenjak WFH, saya sebenarnya hanya beberapa kali menulis tema semacam ini. Saya kira, keadaan akan lekas membaik karena saya yakin masyarakat banyaj juga menginginkan hal itu. Tetapi kok nyatanya, malah semakin kacau dan bukannya terkendali.

Yang paling membuat saya kecewa ditengah ramainya situasi ini, kok ya kiamat gagal terjadi pada tanggal 15 Ramadhan. Katanya tanggal 15 Ramadhan tahun ini akan terjadi kiamat? Kalau jadi kiamat kan enak, langsung selesai semuanya. Ini panitia kiamat yang mencetuskan tanggal 15 Ramadhan akan terjadi armageddon itu, sungguh kurang ajar. Lha po tidak direncanakan dengan baik kok bisa gagal?

Karena gagal kiamat, maka mau tidak mau masa berhadapan dengan corona masih akan berlangsung.

Dan semoga saja, tak ada keputusan dan atau kebijakan blunder yang diambil oleh para policy maker. Sebab jika sampai blunder, bisa jadi kiamat akan terjadi setiap hari.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *