Work From Home

Ilustrasi work from home

Work From Home : Bekerja Dari Rumah.

Kalimat atau istilah tersebut tiba-tiba saja menjadi sangat mengemuka beberapa hari terakhir ini, di Indonesia. Sedangkan saya, sudah memimpikannya semenjak sekira sebelas tahun yang lalu. Pada awal ketika mulai mengenal dan intens menggunakan email.

Begini sebelum saya lanjutkan tulisan ini, bahwa tulisan ini ditujukan untuk pekerja atau pekerjaan yang lebih banyak menggunakan komputer. Secara kasar, saya katakan ini ditujukan untuk pekerja atau pekerjaan di kantor atau ruangan. Saya enggan menggunakan istilah formal dan non formal.

Bagi pekerja dan pekerjaan yang mengharuskan kegiatan di luar ruang, saya tak mempunyai kemampuan, pengalaman, atau juga kualifikasi untuk memberikan gambaran. Hanya saja jika saya boleh berpendapat :

“Apapun pekerjaan kita saat ini, itu sudah merupakan takdir dan juga pilihan hidup kita.”

Jadi ketika saat ini, dalam kondisi semacam ini banyak pekerja dalam kantor yang mendapat keringanan untuk work from home atau bekerja dari rumah, maka pekerja lapangan jangan lantas merasa iri atau sakit hati. Toh selama ini kalau dilihat dari sudut pandang terbalik —dari sudut pandang pekerja kantor—, pekerja di lapangan mempunyai keuntungan lebih. Mereka lebih sehat karena aktif bergerak, dan juga setiap saat bisa melihat pemandangan serta suasana yang berbeda. Berkebalikan dengan pekerja dalam kantor yang mengharuskan seharian untuk duduk, dan mudah terserang jenuh karena setiap saat hanya memandang kertas dan layar komputer.

Jadi, ini hanya bagaimana penerimaan kita terhadap sesuatu yang saat ini menjadi hak serta kewajiban kita. Seperti yang pernah juga saya tuliskan disini tentang kunci kesuksesan.

Jadi sekali lagi, ini adalah tulisan untuk pekerja dalam kantor, yang kebanyakan hidupnya hanya dihabiskan untuk mengelus mouse dan juga keyboard laptop atau komputer. Bagi pekerja lapangan, dalam kondisi semacam ini dengan adanya pandemi Covid-19, saya hanya bisa berharap bahwa anda lebih bisa menjaga kondisi tubuh, seraya berdoa bahwa Tuhan senantiasa melindungi kita.

Saya lanjutkan untuk kembali masuk dalam tema, Work From Home.

Saya sudah memikirkan ini semenjak sekira sebelas tahun yang lalu, antara tahun 2008-2009, bahwa pekerja dalam kantor seperti saya ini tak harus duduk di kantor sepanjang hari, sepanjang minggu, untuk menyelesaikan pekerjaan. Kenapa?

Waktu itu saya berpikir, bahwa terus menerus berada di kantor selama seharian, selama seminggu, adalah pemborosan. Boros dalam hal penggunaan listrik dan air. Waktu itu saya masih idealis. Dan berpendapat bahwa anggaran untuk pos belanja listrik dan air bisa dialihkan untuk belanja lain yang menunjang tugas pokok dan fungsi satuan kerja. Karena waktu itu saya masih bekerja di madrasah, maka saya berpendapat bahwa pos anggaran yang akan ‘habis’ untuk langganan daya dan jasa itu, bisa dialihkan paling tidak untuk memberi ‘bantuan’ buku pada murid yang kurang mampu.

Tetapi saat ini, karena idealisme saya sudah sedikit ‘luntur’, maka pendapat dan alasan saya untuk work from home sudah sedikit bergeser. Sedikit saja,karena saya masih berpendapat bahwa langganan daya dan jasa —air, listrik, telepon, internet—, bisa dialihkan untuk pos belanja lain yang menyentuh langsung sektor kesejahteraan masyarakat. Sedikit pergeseran dari pemikiran saya, semata karena efektifitas. Efektifitas menjadi kata kunci dari perkembangan dan kemajuan jaman. Saat ini siapapun baik lembaga maupun individu, jika tidak mempunyai efektifitas di dalam bekerja, maka ia akan terlindas jaman.

Untuk pekerja dalam kantor, work from home dalam situasi tidak mengenakkan karena serangan virus seperti saat ini, sebenarnya bisa menjadi semacam momentum. Momentum perubahan untuk mulai menggeser paradigma setor muka dalam bekerja.

Ayolah, sudah saatnya untuk tidak menjadikan absen dan kehadiran fisik pekerja di kantor sebagai tolok ukur kinerja. Bahkan saat ini penganggaran dan pertanggungjawabannya sudah mulai menggunakan tolok ukur : outcome, hasil.

Apa yang sudah dihasilkan dari anggaran yang belanjakan?

Jika anggaran saja sudah menggunakan tolok ukur outcome, lantas kenapa tolok ukur kinerja pegawai tidak juga menggunakan tolok ukur tersebut?

Apa yang sudah dihasilkan oleh seorang pegawai atau pekerja selama rentang waktu tertentu, terhadap tugas pokok dan fungsinya?

Hari ini saya melakukan work from home, karena pimpinan mengharuskan hal tersebut. Saya menyambutnya dengan baik, karena alasan agar ikut mereduksi penyebaran virus dengan sedikit mungkin gesekan atau interaksi antar individu.

Yang menjadi sedikit persoalan, bahwa secara nasional, infrastruktur birokrasi belum memungkinkan untuk bekerja dari rumah. Katakanlah jika harus ada rapat secara virtual, dan dalam waktu yang bersamaan dilakukan oleh puluhan atau ribuan kantor di seluruh Indonesia, jaringan internet yang ada belum mencukupi untuk hal itu. Tidak percaya? Tanyakan saja pada asosiasi penyedia jasa layanan internet.

Itu adalah infrastruktur eksternal. Secara internal, birokrasi dan hampir semua kantor pemerintah belum siap menyelenggarakan hal itu, meski Presiden Jokowi beberapa bulan yang lalu sudah menginstruksikan untuk melakukan efektifitas kerja melalui work from home.

Tetapi semua mekanisme kerja Aparatur Sipil Negara [ASN] belum disiapkan. Contoh kecil, bahwa dalam hal sekecil apapun termasuk surat menyurat belum bisa secara elektronik. Tanda tangan dan stempel basah masih menjadi penanda absah yang diakui secara umum antar lembaga pemerintah.

Dalam masing-masing internal satuan kerja, belum ada server internal untuk menampung semua hasil kerja dan proses kerja yang berlangsung. Ke depan, dengan momentum saat ini, semoga saja mulai dicanangkan untuk membuat mekanisme kerja ASN menjadi efektif melalui layanan digital.

Layanan digital yang benar-benar digital mulai proses awal sampai akhir, bukan hanya sekadar ‘Lips Policy‘.

Tentu saja tak lantas semua pekerja dalam kantor bisa melakukan work from home. Terkecuali ASN atau pekerja yang harus melakukan layanan atau pelayanan terhadap masyarakat melalui tatap muka langsung.

Yang ingin saya tekankan, berapa miliar atau triliun rupiah yang bisa dihemat dalam anggaran negara, jika saja sebagian besar ASN bisa bekerja dari rumah dan mengakses semua pekerjaannya darimanapun tempatnya berada, dan tak harus berada di kantor. Tentu saja belanja pemerintah untuk langganan air, listrik, dan juga telepon bisa dihemat sedemikian rupa. Belum lagi belanja lain yang saat ini harus ada untuk menunjang kehadiran pegawai atau pekerja dan juga ASN di kantor, bisa di hemat.

Kembali lagi pada kata kunci, efektifitas.

Work From Home atau Bekerja Dari Rumah bukan lantas adalah liburan, tetapi adalah bukti sahih mengenai janji profesionalitas sebagai pekerja, pegawai, atau juga ASN. Sejauh apa kita bisa bekerja tanpa pengawasan langsung, dan outcome apa yang tetap bisa kita hasilkan tanpa harus duduk dan hadir di kantor.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *