YANG (MASIH) TERLEWAT DARI 10 KILOMETER JALAN KAKI

Baru jalan kaki sekali saja sudah kemaki betul berani cerita-cerita?
Lagipula juga cuma berjalan dalam jarak dekat, dan bukan pada tempat yang spesial dan mempunyai ciri khas tertentu. Anda ini terlalu banyak bicara, bung.
Lebih baik bercerita, menuliskan gegap gempita politik dan keberpihakan sikap terhadap kondisi nasional termutakhir. Biar terlihat intelek dan sedikit pintar.
*******
Saya sedang menahan diri untuk tak lagi banyak berkomentar mengenai kondisi politik saat ini, dan lebih tertarik menuliskan hal-hal kecil serta sederhana yang saya alami. Tahu kenapa? Kebanyakan politikus-politikus itu mengajarkan suatu sikap pengecut, lari dari masalah, mencari-cari pembenaran dari kesalahan yang dilakukan, serta yang paling fatal —secara banal mempertontonkan kebodohan—. Maka saya mencoba menahan diri untuk tidak menulis hal-hal yang berbau politik, dan lebih suka menuliskan tai kucing di pinggir jalan.

Ada beberapa hal yang masih luput dan terlewat untuk kemarin dituliskan dari apa yang saya lihat dari dekat, ketika berjalan dari Prambanan menuju Piyungan, melewati jalan kecil persawahan serta perkampungan. Beberapa hal itu akan saya sampaikan saja secara singkat.

Pertama, tata ruang berantakan.
Menurut saya ini permasalahan serius. Ya tidak serius-serius amat sih, masih lebih serius bahasan mengenai apakah Tuhan mengerti ucapan serapan dari bahasa Arab menuju Jawa. Misalnya saja ketika dulu Simbok saya menyebut kamandiyah untuk Muhammadiyah. Apakah kemudian Tuhan mencatat ucapan Simbok tentang kamandiyah sebagai benar-benar kamandiyah, ataukah Tuhan mahfum bahwa maksud Simbok adalah Muhammadiyah. Kalau Tuhan tidak mengerti, maka Simbok tentu dianggap sebagai pembohong, pembual, dan tentu saja menyebarkan sesuatu kata yang tidak benar. Kalau menurutmu, Lur? Telur???
Kalau Tuhan ku sih pintar, cerdas, perasa, penyabar, dan mengerti maksud serta ucapan lisan umatnya meski dalam lafal yang kurang tepat. Entah kalau Tuhan mu, mungkin pemarah?

Kebutuhan tempat tinggal dan perumahan

Eh eh, sudah ah, kembali lagi pada permasalahan sedikit serius yang tadi coba saya sampaikan. Tata ruang dan pemanfaatan lahan. Diantara petak serta hamparan sawah yang kemarin saya lewati, banyak sudah yang diantaranya berselang dengan bangunan. Ada rumah mewah dengan tembok menjulang tinggi, ada juga rumah sederhana yang bahkan temboknya masih memperlihatkan dinding batu bata.

Perlahan, sawah-sawah itu sepertinya akan berganti dengan bangunan, jika tak dibuat aturan main yang cukup jelas mengenai alih fungsi lahan pertanian. Saya mengingat dengan jelas, pada suatu area yang kini berdiri sebuah masjid megah di seputar Sleman, dahulu terpampang sebuah papan yang menginformasikan bahwa daerah serta lahan tersebut adalah daerah tangkapan air. Yang dengan begitu maka tidak boleh sembarangan mengubahnya, mengalihfungsikan, apalagi berganti dengan bangunan. Tepat pada persawahan di timur Banteran, masih ada papan yang menginformasikan hal serupa, tentang daerah lahan pertanian, namun tepat disamping papan tersebut kini marak berdiri serta berjajar bangunan.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Takdir. Lhaiya takdir, mosok Kadir. Garing ya? Hehe.

Jawabannya tentu tidak sederhana, mungkin juga malah cukup pelik. Berkaitan dengan kebutuhan manusia akan papan, tempat tinggal. Tak semua orang mempunyai kemampuan finansial untuk mampu mencukupi kebutuhannya akan tempat tinggal, dengan tanpa mengganggu serta ‘merusak’ lahan pertanian.

Tetapi meski begitu, tentu tetap ada solusi yang bisa diterapkan, dilakukan untuk menjaga keberlangsungan penghidupan manusia melalui petak tanah persawahan. Tentu kita tidak mau kan ya, suatu saat makan cor semen dan bebatuan?

Solusinya apa, dan bagaimana?
Haa ya gampang, besok lah kalau sudah diangkat jadi menteri. Kamu kira ide itu murah po???

Solusi kebutuhan tempat tinggal untuk masyarakat pedesaan dengan lingkungan sosial serta lingkup pekerjaan petani tidak bisa hanya diselesaikan melalui pembangunan perumahan, cicilan murah atau juga uang muka minimal. Tidak sesederhana itu. Lingkungan perumahan yang dibangun semenjak dahulu, memisahkan masyarakat pertanian dengan budaya bertani serta sawah-sawah mereka.

Sekali lagi, tetap ada solusi, tapi ya ndak trus gratisan. Haa kok pinuk.

Pembangunan belum merata

Kedua, pembangunan belum merata.
Semenjak dahulu, semenjak tahu ketika Pak Harto dinobatkan sebagai bapak pembangunan, saya sudah sedikit ragu. Selama ini pembangunan selalu berkonotasi dengan bangunan-bangunan dan segala macam hal artifisial yang berkait dengan kemajuan melalui tolok ukur negara barat, Eropa dan Amerika. Benarkah bahwa pembangunan harus berbanding lurus dengan banyaknya gedung megah, majunya moda transportasi, atau banyaknya barang-barang mewah yang beredar serta dimiliki masyarakat?

Tentu kemajuan teknologi sebagai salah satu penanda jaman telah bergeser maju, tak dapat dipungkiri akan memudahkan kehidupan manusia. Tetapi tak lantas juga semua hal harus diterima serta ditelan mentah-mentah untuk disebarluaskan kepada masyarakat tanpa penyaring perihal daya guna dan daya dukung bagi lingkungan serta kehidupan sosial dan budaya yang sudah terbangun melalui proses panjang.

Maksud saya, sejauh mana misalnya, kemajuan teknologi bisa mendukung petani atau masyarakat pedesaan, mengangkat harkat dan martabatnya, serta tidak merasa rendah diri dihadapan orang kota, sekaligus tidak dianggap sebagai masyarakat kelas dua?

Nasi yang beredar pada resto atau dapur hotel berbintang, kita semua tahu berasal dari tanah-tanah kotor, berlumpur, dan bercampur peluh para petani yang menanamnya.
Kopi yang tersaji di meja-meja, diantara obrolan orang kota, dengan harga puluhan sampai ratusan ribu, kita tahu juga tak datang sendirinya dari surga, atau datang dari balik tembok pabrik-pabrik. Kopi juga berasal dari kebun, tanah-tanah penuh humus, juga bercampur dengan peluh para penjaga kelestariannya.

Kemajuan teknologi pada sektor pertanian tak bisa hanya diukur dari banyaknya traktor menggantikan sapi, atau dari cepatnya suatu proses budidaya tanaman. Tidak hanya bisa dinilai dari angka-angka statistik mengenai jumlah hasil panen, naikkah atau bahkan turun, serta harga-harga acuan yang ditentukan oleh mereka yang bukan petani serta pelaku pada tahap pertama.

Pembangunan harusnya membawa pola pikir dan penilaian bahwa petani adalah golongan masyarakat dengan nilai derajat kegunaan bagi sesama manusia dan penjaga kelestarian alam yang paling tinggi. Dengan tidak kemudian meminggirkan beragam macam profesi lain, tetapi dengan penuh hormat dan kerendahan hati, hampir semua manusia membutuhkan hasil kerja para petani. Semua manusia, membutuhkan makan.

Pembangunan yang belum merata, dalam maksud saya, adalah nihilnya sinergitas untuk berdiri setara, berjajar, dalam tugas dan pokok fungsinya masing-masing bagi keberlangsungan alam serta peradaban manusia. Sebagaimana kita ketahui saat ini, satu manusia dari suatu profesi, merasa lebih tinggi dan berguna dari manusia lainnya.
Kurangnya sikap serta pemahaman untuk saling mengerti bahwa manusia berkelindan erat saling membutuhkan, membawa kesenjangan dalam tiap sendi kehidupan.

Saat ini, bahkan, banyak dari para petani berharap anak keturunannya tak juga turut menjadi petani. Entah karena alasan status sosial, maupun perihal ekonomi. Semata bukan kesalahan mereka, tetapi sekali lagi, karena pembangunan memang belum merata.
*****
Dua saja lah ya?
Namanya juga cuma terlewat. Kalau terlalu banyak, bukan terlewat, tetapi memang terlupa.

Selebihnya, jalan kaki membawa saya untuk jauh lebih banyak melihat dan mendengar, sejenak meninggalkan segala ketergesaan.

Mau kemana juga, kenapa harus tergesa?
Bukankah terkadang kita berharap bisa sejenak menghentikan waktu?

Kita tak mempunyai kuasa menghentikan waktu, tetapi kita bisa sedikit membuatnya melambat.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.